Stand Above The Clouds (Merapi, 2968mdpl)

by - 7:23 AM





            
 Gunung merapi dengan ketinggian 2968mdpl menjadi tujuan petualanganku kali ini. Setelah kkn dan aku bertemu dengan orang-orang yang memiliki kesenengan yang sama, akhirnya ada sebuah ajakan untuk menikmati indahnya gunung yang masih aktif  ini. Ajakan ini berasal dari Mas Khanif, lalu dia mengajak aku dan Desta. Dari kkn Kemiriombo, cuman kami bertiga yang suka dengan pendakian gunung. Lalu kurang afdol rasanya kalau cuman bertiga, akhirnya mas Khanif memintaku untuk mengajak Blue, teman sepermainanku yang memiliki kesenengan yang sama.
            Kami bergabung dengan anak Administrasi Bisnin Undip untuk melakukan pendakian kali ini. Setengah delapan pagi kami bersiap untuk kumpul di GSG. Ohya, kami juga melakukan packing bersama sebelum pemberangkatan. Tepatnya semalam sebelum hari H. Packing bersama jam 12 malam. Dikarenakan aku dan Blue main dulu ke Semawis sedangkan mas Khanif asyik ngapelin ke rumah cewenya, jadi packing mulainya malam banget  sampai larut malam deh. Ee Destanya malah ketiduran gaikut packing. Jadinya yang packing cuman kami bertiga.
            Packing bersama selesai pukul 02.30. malam semakin larut dan tibalah pagi. Jujur saja setelah packing itu aku gak bisa tidur. Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal. Apalah itu, hanya Tuhan yang tahu dan aku tidak dapat mendefinisikan secara jelas.
            Pagi harinya kami berkumpul di GSG. Dan ternyataa.. ada Aji dan Mirza juga yang ikut rombongan kami. Secara mereka juga dari Administrasi Bisnis. Dunia semakin sempit saja.
            Setelah tunggu-tungguan akhirnya kami berangkat menuju Boyolali. Perjalanan memakan waktu 2jam-an. Kami menggunakan sepeda motor. Rombongan kami berjumlah 17orang. Dan aku tidak mengenal siapa pun anak administrasi bisnis selain Aji dan Mirza.
            Kami sampai di Basecamp Gunung  Merapi untuk menitipkan motor. Lalu kami mulai melewati tanjakan untuk menuju New Selo, gerbang menuju Gunung Merapi. Tanjakannya lumayan tinggi. Ngos-ngosan aku dibuatnya. Tapi tetep semangat dan ceriaa.. the real adventure has started ! aku semangat banget melakukan pendakian kali ini. Pendakian pertama setelah Gunung Ungaran yang berkali-kali, akhirnya aku naik gunung juga selain Ungaran.. lapisan tekadku untuk menaklukan Gunung Merapi itu sekeras baja.
            Sesampainya di New selo, tak lupa untuk sholat  karena waktu sudah menunjukan Dzuhur. Sholat pun sekenanya, disitu tidak disediakan tempat ibadah yang nyaman. Akhirnya sholat di gazebo dengan hembusan angin yang sangat kencaaang, membuat rukuhku berkibar-kibar.
            Di New Selo ini kita bisa melihat pemandangan yang subhanallah sekali. Pemandangan yang keren abis. Panorama Gunung Merbabu yang cantiik sekali bisa terlihat jelas dari New Selo ini. Hamparan sawah terasering dan  pemukiman penduduk bisa terlihat bagaikan lukisan alam yang nyata.
            Subhanallah Gunung Merbabu, cantiknya~
            Eeettss tapi aku tidak melakukan pendakian di gunung merbabu loh, tapi di gunung merapi. Jadi, posisinya merbabu itu berhadapan pas dengan merapi. Jadi ketika kita di merapi kita bisa melihat jelas indahnya gunung merbabu. Tinggal tengok kebelakang, uuu merbabu~
            Pendakian yang sesungguhnya segera dimulai. Pertama-tama kami melewati jalan setapak dan di sisi kanan kita bisa melihat perkebunan warga. Lahan yang luas dan ditanami oleh sayuran serta di sisi kiri terdapat juga turunan kelihatannya seperti jurang namun tidak seram-seram amat.jadi kayak pohon-pohon gitu.
            Jalan setapak ini dipenuhi oleh debu  dan terus menanjak tinggi-tinggi cekali. Perlu ekstra hati-hati karena licin. Jalanan ini penuh debu karena bekas semburan lahar pas kejadian meletusnya merapi itu. Dan bekas dari debunya masih menumpuk di jalur pendakian merapi.
            Di tengah jalan kami berpas-pasan sama anak ksr. Gak sengaja banget kami bertemu disini. Bedanya, ketika aku mau naik lalu anak ksr-nya turun. Jadi, mereka lebih awal ke merapinya sebelum aku. Lucunya melihat muka mereka yang penuh dengan debu. Duh aku jadi was-was, keesokan harinya setelah aku turun mukaku kayak apa yaa~ apa kayak aji d16, masferdian dan laiinya yang penuh dengan debu?
            Jalanan terus menanjak dan semangat masih menggebu-gebu. Pasang masker dan sarung tangan karena debu ini membuat hidung penuh dengan upil warna item. Akhirnyaaa.. alhamdulillah setelah tanjakan yang terus terusan, akhirnya ada bonus dataran. Kami pun istirahat sejenak untuk melepas lelah yang mendera.
            Kami beristirahat di dekat kebunnya warga. Pemandangan depan kamiii.. uuuu merbabu men! Gilak, semakin keren. Apalagi ada awan-awan yang mengelilingi puncaknya serta menambah daya kecantikan merbabu.
            Setelah puas foto-foto lalu kami segera melanjutkan perjalanan kembali. Banyak pendaki yang melewati kami.  Ada yang  mau naik ataupun turun. Lalu kami selalu menyiapkan senyum menyapa sesama penikmat alam. “mari mas..” “nutrisari..” setiap kami berpas-pasan dengan yang mendahului kami apa pas turun melewati kami. Tak jarang kami saling bertanya.. “dari mana?” “berapa orang?” basa-basi sesama pendaki untuk menambah teman serta menghargai satu sama lain.
                        Tanjakan demi tanjakan kami lalui. Semakin sore semakin cantik saja. Apalagi sisi kanan kami bisa melihat awan-awan yang bergelantungan dan serasa dekat dengan kami. Langit warna orange menambah kecantikan suasana pendakian ini. Keringat berpeluh-peluh tak menghalangi semangat untuk mencapai puncak tertinggi gunung merapi.
            Lalu kami melewati tanjakan yang penuh batu-batu besar. Perlu semangat dan tekad yang lebih keras untuk melewati ini semua. Tidak hanya batu-batu namun pasir-pasir sisa erupsi pun masih ada. Perlu kesabaran. Pantang mengeluh tapi nikmati saja perjalanan yang menguras tenaga ini. Bila capek, tengoklah kebelakang.. kita disuguhkan pemandangan dari gunung merbabu, obat segala rasa lelah. Lalu kita melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat melewati segala tanjakan, batuan dan pasir..
            Hari semakin gelap. Penerangan dari alam semakin minim. Sayangnya persiapan kami kurang. Aku dan mas Khanif tidak membawa senter (ups, sworry~) serta Desta membawa  headlamp (sayangnya, batrenya hampir  habis) dan harapan kami satu-satunya adalah Blue, dengan senter hapenya sebagai penerang kami dalam pelita malam.
            Kami berempat terpisah dari rombongan anak bisnis. Jadinya kami tertinggal hanya berempat saja. Ditengah langit yang sudah terlalu gelap, semakin tinggi tempat kami berpijak semakin kencang pula angin yang berhembus. Tidak hanya angin saja,namun kabut pun sangat tebal sekali. Dingin menyergap kami. Tapi kami tak lantas lengah atau pun berhenti. Kami tetap lanjut melanjutkan perjalanan sampai pada tempat camp di pasar bubrah.
            Sepi sekali hanya tinggal kami berempat dan takada orang selain kami. Kabut mengahalangi pandangan mata kami. Senter pun hanya dari Blue yang masih menyala terang, serta headlamp-nya Desta yang semakin kesini semakin redup nyalanya. Semua aku pasrahkan pada Allah. Mulut terus berdoa. Berusaha untuk tidak mengutuk atau pun mengeluh.
            Kami melewati tanjakan berupa batu-batu. Kabut pun semakin tebal. Angin juga kencang menerpa. Terus berjalan berharap semoga kami melewati jalanan yang benar dan tidak kesasar.
            Pada akhirnya kami mendengar hingar bingar. Namun semua terasa gelap karena angin yang keras dan kabut. Apakah kami sudah dekat dengan pasar bubrah? Itu pertanyaan kami. Terus saja kami berjalan. Ada cahaya yang berkilau ditengah kabut, pertanda ada yang ngecamp di dekat-dekat kami berdiri. Terus saja berjalan ditengah tebalnya kabut. Lalu kami melewati sebuah bangunan. Entah ini bangunan apa tapi bentuknya seperti rumah gitu. Aku bergidik ngeri namun aku tak mau memikirkannya terlalu dalam. Terus saja berjalan ke suara hingar bingar itu.
            Daan.. akhirnya sampailah kami di pasar bubrah. Destinasi kami untuk mendirikan tenda. Banyak sekali ternyata yang mendirikan tenda disini. Kami bertemu Nana salah satu rombongan kami, anak bisnis. Kami dibantu untuk mendirikan tenda. Perlu waktu yang lama untuk mendirikan tenda berkapasitas 4 orang ini. Hampir dua jam kami berkutat dengan tenda yang belum bisa berdiri dengan tegak dan gagahnya. Lalu dapat tawaran dari Nana untuk bergabung di tenda sama anak bisnis. Tapi kami mencoba dulu untuk mendirikan tenda. Berkali-kali dicoba tapi hasilnya nihil.
            Akhirnya kami tahu masalah yang terjadi, kesalahan kenapa tenda ini tidak bisa berdiri dengan tegak adalah kesalahan pemasangan frame-nya. Awalnya kami memakai framenya untuk teras bukan untuk badan tendanya. Setelah dicoba dengan frame yang benar,alhamdulillah tenda bisa berdiri dengan tegak dan kami siap untuk segera masuk ketenda, mengingat angin diluar sangat kencang dan dingin mulai menembus jaket dan merasuk ke kulit. Brrrr~
            Perut pun tak kuasa menahan lapar yang mendera. Di dalam tenda kami mulai memasak mie. Tapi apa yang terjadi?? Kompornya tidak bisa diajak untuk sahabatan. Kompornya ngambek gak mau berfungsi, untungnya sebelum kompornya ngambek, kami sudah memasak air panas dan satu mie rebus . Tapi ketika memasak air panas itu penuh pengorbanan, entah apinya yang terlalu ganas atau tiba-tiba terdengar suara letupan dari kompornya itu. Ngeri kan? Yasudah, akhirnya kami hanya makan 2 popmie dan satu mie rebus untuk empat orang. Serta tak lupa makan biskuit gandum kacang untuk mengisi perut yang masih kelaparan. Entahlah besok kami sarapan apa, #mikirkeras.
            Malam semakin larut. Suara-suara masih terdengar diluar sana. Namun terdengar ada juga beberapa suara derap langkah yang menyatakan mereka baru saja sampai di pasar bubrah lalu mulai mendirikan tenda. Dan Angin pun semakin kencang, bisa terasa dari tenda yang kena hembusan angin dengan keras.
            Pagi mulai menyapa. Aku pun terbangun dan mulai keluar dari tenda. Ta lupa pakai jaket karena udara dingin masih saja menggelayut.  Begitu aku keluar dari tenda, mulutku langsung mengangalebar. Saking kaget, kagum dan gak nyangka banget aku melihat ini semua. Aku merasa tersesat di antah berantah.
            Ini yang namanya pasar bubrah. Sebuah tanah lapang  yang memiliki banyak batuan serta pasir berwarna putih. Tidak ada pohon yang tumbuh disini. Hanya batu-batuan dari yang besar dan kecl itu ada. Semua bewarna abu-abu. Aku seperti berada di planet lain yang sering diceritakan di film-film luar negeri.
            Aku terus berjalan menyesuri lapangan luas  ini untuk mencari Desta dan mas Khanif yang udah bangun duluan. Aku terus berjalan menuju lukisan gunung merbabu yang terlihat jelas dari pasar bubrah ini. Dari pasar bubrah ini aku bisa melihat jelas lautan samudra awan yang mengelilingi pasar bubrah. Dari belakang aku bisa melihat dengan jelas puncak gunung merapi. Gunung yang berwarna abu-abu ini berdiri dengan gagah menawarkan sebuah petualangan seru bila kita dapat menaklukan puncaknya.

            Aku bertemu Desta dan mas khanif. Tak lupa kami foto-foto mengabadikan momen ini. Dari pasar bubrah ini kami bisa melihat sunrise. Awan berwarna ke oranye karena berpadu dengan matahari. Takj lupa aku bisa melihat samudra awan dengan jelas di pasar bubrah ini. serta pemandangan merbabu yang cantik di pagi hari. Semakin lama matahari tak malu-malu lagi untuk menampakkan dirinya secara utuh. Biasanya aku hanya melihat sunset dilaut, kali ini aku melihat sunrise di gunung!




           Jam 07.00 kami mulai untuk perjalanan selanjutnya. Perjalanan ini membutuhkan tekad yang kuat karena medan ini tidak main-main. Puncak ! dari pasar bubrah aku melihat dengan jelas orang yang naik atau pun turun dari puncak. Treknya tidak gampang. Kita akan beradu dengan pasir, batu dan tanjakan. 

            Tanjakan menuju puncak ini sungguh ekstrim. Tidak ada pohon disekitar sini. Yang ada hanya pasir dabbatu. Kaki mulai melangkah melewati tanjakan berpasir ini. Terkadang kaki-ku masuk kedalam pasir yang agak dalam dan berat untuk melangkah. Terkadang aku harus merangkak lalu berpegangan dengan batu-batu. Namun jangan terlalu percaya dengan batu untuk menjadi pegangan, karena ada batu yang alami dan tidak bisa jatuh alias nempel disitu tapi ada juga batu yang sekali pegang langsung ikut terangkat sehingga dapat berbahaya karena bisa membuat kita jatuh.
            Jalanan semakin nanjak. Aku pun terus merangkak terkadang berdiri dengan kaki yang berat karena penuh dengan pasir yang masuk di sepatu. Debu-debu mulai menempel di mukaku. Aku sudah pasang masker dan sarung tangan untuk meminimalisir debu masuk kulit.
            Akhirnya aku mengalami ini, seperti yang diceritakan di film 5cm pendakian kali ini. Waktu artis 5cm melewati tanjakan untuk menuju mahameru. Nah seperti ini, jadi perjalanan puncak gunung merapi ini seperempat dari perjalanan mahameru. Gilak, gak kebayang yang mahameru itu kaya apa. Lahwong yang merapi aja ini udah ekstrim banget. Padahal puncaknya deket kalau dari pasar bubrah. Tapi ya ituu...treknya bikin adrenalin meningkat serta tekad semakin kuat karena sudah separuh perjalanan menuju puncak. Rasanya pengen banget menyerah, tapi lihat kebawah... pasar bubrah sudah jauh yang dekat adalah puncak. Otomatis semangat ku kembali aku pupuk untuk menaklukan gunung merapi ini.


Merbabu dari Merapi

            Ada kejadian mengerikan. Ada batu besar yang tiba-tiba turun dari atas. Lalu dari atas serempak meneriaki “rock!!” ada juga yang bilang ”awas batu”.. kami yang masih setengah di perjalanan mulai minggir dan mengambil langkah untuk menghindari benturan dari batu itu. Ngeri banget.. kayak di 5cm! Untung tak ada korban dari batu besar itu. Tidak hanya batu besar yang turun, batuan kecil pun juga kadang banyak yang turun.
            Puncak semakin dekaat.. batu-batu yang besar mengiringi perjalanan kami. Terus menanjak, terus berpegangan dengan batu yang bisa dipercaya. Terkadang aku merangkak seperti spiderman. Menggunakan segenap kaki dan tangan serta kepala yang terus menengadah melihat puncak yang semakin dekat.
            Dekaat.. semakin dekaat.. kali ini aku merangkak karena bila berdiri aku kesusahan. Akhirnya, Desta yang sudah diatas puncak menjulurkan tangannya kearahku. Aku meraih tangannya. Daaan.. sampailan aku dipuncak gunung merapi !! waw, awesome, sugoiiiii.. gilak perjuangannya gak main-main untuk sampai di puncak ini.
            Puncak pertama yang aku berhasil untuk melewatinya. Puncak pertama dengan rintangan yang susah. Alhamdulillah.. puncak gunung merapi!! Aku berdecak kagum dengan pemandangan yang tersuguh dari puncak. Puncak ini Cuma berukuran beberapa meter saja, tapi memanjang. Disisi kiri bisa kita lihat langsung kawah gunung merapi. di sisi kanan langsung turunan yang curam ke arah pasar bubrah. Ekstra hati-hati bila berjalan di puncak ini. Lengah dikit kalau engga terjatuh ke sisi kanan yaa ke sisi kiri.
            Momen ini harus di abadikan tentunya. Dengan kamera poket yang dibawa sam desta kami pun foto-foto dengan background samudra awan yang terlihat menggumpal-gumpal seperti kapas putih bersih serta langit biru yang cerah. Matahari pun tampak gembira dengan sinarnya menyinari gunung merapi.



            Muka kami penuh peluh dan debu. Tapi itu membuat kami terlihat natural di kamera mengingat perjuangan untuk sampai ke puncak harus melewati rintangan yang tak gampang. Seluruh pakaian sangat kotor dengan debu dan pasir yang pada menempel.
            Waktu menunjukan pukul 09.00. matahari kian meninggi. Saatnya untuk turun dari puncak. Aku bergidik ngeri melihat medan yang terlihat jelas dari atas puncak ini. jalanan yang dengan komposisi pasir dan bebatuan ini agak menyiutkan nyaliku.
            Mau gimana lagi, masa iya aku mau dipuncak sampai akhir khayat.. engga kan? Jalan satu-satunya untuk aku kembali ke rumah ya dengan menuruni turunan ini.
            Aku bulatkan tekad walaupun agak takut-takut. Tapi ada Desta sama Mas Khanif yang menemaniku turun. Sampai pada akhirnya Mas Khanif sudah duluan sampai ke bawah dan tinggal aku dengan Desta. Desta terus saja dibelakangku. Well, jalanku lambat karena perasaa takut akan pasir yang licin ini.
            Sedikit demi sedikit aku melangkahkan kakiku. Terkadang aku harus perosotan dengan kaki atau dengan duduk. Tergantung medan. Dan mataku melihat jelas pasar bubrah yang terlihat jelas dari atas. Ratusan tenda berdiri tegak seperti permen warna-warni bila dilihat dari atas.  Serta pemandangan yang tak kalah keren dari gunung merbabu yang megah dikeliling oleh awan-awan.  


            Dan pada akhirnya sampai juga di pasar bubrah. Lalu aku menengok ke belakang. “gilaaaa.. eksttrim bangett!!” kataku. Tapi aku bersyukur bisa mengelahkan diriku untuk sampai ke puncak. Petualangan kali ini sungguh mengesankan.
            Puncak pertamaku. Gunung Merapi, menyajikan sejuta keindahan dan menguji adrenalin. Menikmati setiap prosesnya sampai akhirnya bisa kembali ke Tembalang. Melakukan perjalanan dengan orang-orang baru dan harus menghormati kepribadian satu sama lain. Well, ketika naik gunung sifat asli seseorang akan terlihat.
            Walaupun perjalanan ini tidak seratus persen sempurna, karena kelaparan paginya gara-gara kompor ngambek gak mau nyala, tapi kekurangan itulah yang menjadikan pelajaran untuk melaksanakan petualangan berikutnya lebih tertata dan persiapan lebih matang lagi. Serta menjadikan ini semua sebagai cerita kelak dan menambah wawasan pada kami untuk mengetahui sisi lain dari tanah air yang “so amazing!!”.
            Aku yakini, ini bukan sekedar perjalanan biasa namun perjalanan hati. Ketika kita bisa menekan ego masing-masing untuk terus bertahan ditengah kekurangan dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik.

           

You May Also Like

0 comments

silahkan berkomentar sesuka hati disini..