Hey Andong!

by - 12:19 AM



Asap knalpot bergerumul dari bis-bis yang berjejer di sepanjang bibir jalan sukun. Ini adalah pengalaman pertama ku naik bis sendiri untuk menuju kota orang, Magelang. Biasanya aku naik bis sendiri hanya sebatas semarang-jepara. namun kali ini, aku keluar dari zona nyamanku untuk merasakan bagaimana rasanya naik bis sendiri menuju kota magelang. Aku menggunakan bis ekonomi, karena bis ekonomi harganya tidak menguras kantong. Beda dengan bis patas, harganya bisa 2 kali lipat. Sayang duit ah, toh tujuannya sama. Cuman yang membedakan adalah fasilitas dan kenyamanan yang tersedia di bis.
            Rencananya aku akan bertemu dengan temanku yang dari Jogja di terminal Tidar, Magelang. Kami akan menaklukan sebuah gunung di Magelang yakni gunung Andong yang lagi ngehits di instagram itu looh. Teman-temanku dari Jogja mengendarai motor, karena jarak Jogja dan Megelang tak cukup jauh sehingga naik motor pun dilakoni. Dan itu memudahkan kami menuju basecamp di gunung andong, kalau naik kendaraan umum pasti ribet.
            Di dalam bis ekonomi, suasana panas cukup bikin badan gerah. Angin sepoi-sepoi muncul dibalik ventilasi ketika bis melaju dengan kencang. Bila bis berhenti dikala macet karena perbaikan jalan, jangan harap deh ada kesejukan ditengah terik siang yang menyengat. Panas dan gerah berbaur jadi satu sehingga menciptakan peluh yang mengucur deras dibadan. Apalagi dengan bawaanku cukup banyak, ransel yang berisi peralatan naik gunungku (sleeping bag, logistik, minum, jaket, pakaian ganti) yang bikin tas ku cukup menggembung dan tak lupa bawa helm, sehingga tempat dudukku terasa penuh dan sesak.
            Aku tidak duduk sendiri, ada pemuda yang duduk disebelahku. Dia pun mengajakku berbicara untuk membunuh bosan dikala perjalanan. dia banyak berceloteh kepadaku dan aku hanya mengangguk dan mengiyakan saja. horror juga sih berbicara dengan orang asing, takut kenapa-napa gitu. Banyak berita yang berseliweran tentang hipnotis ataupun pencopetan yang terjadi di bis, nah dari itu aku berdoa kenceeng banget dalam hati supaya terhindar dari perbuatan keji itu. Tetep waspada aja, tapi untungnya pemuda yang duduk disebelahku tidak neko-neko, baik malah terkesan polos. Orang desa yang belum terkontaminasi budaya barat. Terlihat dari cerita-cerita yang terlontar dari mulutnya, serta logat yang sangat kental sekali ngapaknya. Apalagi pertanyaan yang bikin alisku mengernyit, heran dan bikin ngakak. “mba, sekolah dimana?” tanyanya, lalu aku jawab. “di undip mas”. Terus dia nanya lagi, “ Undip itu sekolah biasa atau internasional?” aku langsung terperangah dengan pertanyaannya. Dalam benakku, internasional maksutnya apanih, bilingual atau apa.. lalu aku tanya “maksutnya mas?”. Kemudia dian jawab lagi, “maksutnya undip itu sekolah negeri atau internasional?” ulangnya. Laaadalaaaah... yang dimaksut internasional ini sekolah swasta. Baru paham aku. Dan aku pun di hati kecil tertawa ngakak, ingin sekali ku keluarkan tawaku sekencang-kencangnya tapi aku masih punya hati untuk menghargai setiap ketidaktahuan orang. Hehe maafin..
            Setelah sampai terminal Tidar, aku pun menunggu jemputan dari teman-temanku dari Jogja. Aku tidak menunggu sendiri, aku berkenalan dengan Bagas yang datang dari Bandung. Jauh-jauh dari Bandung hanya untuk mencicipi panorama Andong. Bagas adalah temannya Lia, temanku yang dari Jogja. Bagas datang ke Magelang menggunakan bis. Sembari nunggu rombongan dari Jogja, aku dan Bagas mengisi perut di salah satu kedai di Terminal. Kami banyak bercakap tentang pengalaman masing-masing.
            Para rombongan dari joga pun datang beriringan menggunakan motor. Kami pun berkenalan satu sama lain. Wisnu dan mba Lia adalah yang baru aku temui. Sedangkan Lia dan Riska adalah teman SMA-ku. Total yang akan berangkat naik ke Andong berjumlah 6 orang, termasuk aku dan Bagas.
            Motor melaju di kota Magelang menuju basecamp gunung andong. Kami menyusuri jalan sempat beberapa kali terhenti karena kami buta arah dan bertanya ke beberapa orang. Panorama pegunungan tersaji di sepanjang jalanan yang kami lewati. Sawah terasering yang hijau ditengah musim kemarau ini membuat pandangan ku terasa adem dibuatnya. Gunung merbabu menujulang dengan gagahnya memantau gerak laju kami. Hawa pegunungan terasa sejuk dan bau pupuk kandang menyeruak disepanjang jalan.
            Tibalah kami di desa Gligik tempat basecamp andong bernaung. Kami memarkirkan motor di salah satu rumah warga. Kemudian kami lanjut jalan menuju jalur pendakian andong yang sudah ada didepan mata. Nampak gunung andong dengan ketinggian 1726mdpl. Gunungnya tidak terlalu tinggi dan bentuknya lucu. Dari kejauhan sudah terlihat bentuk gunung andong yang sisi kirinya bulat beda dengan gunung kebanyakan yang bentuknya menyerupai segitiga.
            Kami melewati rumah warga dan jalan setapak yang berupa paving. Jalannya nanjak namun tidak terlalu berat. Kemudian kami melewati hutan bambu. Sore kian menjelang, kami terus melangkahkan kaki. Sampailah kami pada jalan setapak, pohon-pohon berjajar dan menjulang ke angkasa. Jalan setapak ini berlapiskan debu tebal, sehingga menimbulkan gumpalan asap ketika kaki menginjakan pada jalan setapak.
            Jalannya masih berupa anak tangga. gunung telomoyo melambai di depan mata kami. Kalau dibandingkan dengan gunung andong, telomoyo lebih tinggi beberapa meter. Ciri khas dari telomoyo adalah puncaknya terdiri dari pemancar-pemancar yang menjulang diketinggian. Gunungnya tidak untuk kemping cantik, sebab tak ada lahan untuk mendirikan tenda disana. Aku pernah kesana, dan untuk sampai puncak tidak harus jalan kaki, melainkan menggunakan motor. Jalannya pun sudah diaspal. 

            Kami melanjutkan langkah kami di tanjakan-tanjakan berikutnya. Sampai pada pos 1 kami duduk sejenak merehatkan kaki yang sedari tadi menanjak. Kami duduk di kursi bambu yang sudah disediakan oleh penduduk. Retinaku menangkap panorama cantik yang tersuguh dari ketinggian yang belum seberapa ini. pemandangan dari sawah terasering yang menghijau membuat lukisan alam ini teramat indah. Gunung telomoyo didepan kami sangat cantik berdiri. Dan disisi kanan, gunung merbabu terlihat menjulang dan menampilkan ketegasan yang tiada tara. Awan-awan meliukan dirinya di puncak merbabu. warna keemasan terpancar dari tubuh merbabu menambah kecantikan gunung tersebut, warna yang tercipta karena biasan dari matahari yang hampir jatuh ke bumi.
            Matahari mulai menurunkan keeksistensianya. Langit yang sedaritadi terang benderang, kini berubah menjadi warna gradasi antara oranye, ungu dan merah. senja menjadi background kami. Mengiringi jalan kami yang terus menanjak tiada habisnya. Kami bertekad untuk menggapai puncak sebelum matahari benar-benar menenggelamkan dirinya di bumi.
Hai Merbabu!


            Sesampainya di puncak, langit masih bergradasi. Tidak perlu waktu lama untuk mendaki dari kaki gunung andong menuju puncak. Kami menghabiskan waktu 2jam untuk pendakian ini. seharusnya bisa lebih cepat, namun ada dua pemula dalam perjalanan ini sehingga perlu banyak-banyak rehat karena lelah mendera. Dan yang sudah sering naik gunung tak mau egois dengan meninggalkannya. Kami jalan terus beriringan sampai menuju puncak bersama-sama.
            Tak ada matahari yang terlihat. Matahari sudah tenggelam bersama awan-awan yang bergerumul. Bayangan bulan terlihat diatas puncak gunung andong. Kami pun bergegas mendirikan tenda. Selama kami mendirikan tenda, warna langit sudah berubah menjadi gelap seutuhnya. Bintang-bintang berkilau diangkasa raya. Lampu-lampu rumah dibawah terlihat sama cantiknya seperti bintang diatas.
            Dipuncak hanya kami yang mendirikan tenda. Tak ada orang selain kami. Waw, its like a private mount to us! Kami kemping pas weekdays jadi tidak terlalu ramai. Sebab, gunung andong ramai saat weekend saja. dilihat dari postingan instagram yang terdapat tenda warna-warni seperdi parade tenda saja. namun kali ini kami tak merasakan itu, sepi sekali. Beberapa orang yang kami temui langsung turun ke bawah dan tidak nenda. Hanya kami saat ini yang ada puncak. 6 orang saja cukup.
            Angin kencang menelan kami diantara diantara dingin yang mendera. Perlu usaha ekstra untuk memasang tenda dengan angin yang berkibar-kibar dengan dahsyatnya. Tak ada pohon yang menghalangi serangan angin. Jadi, wajar saja bahwa angin sangat keras menghantam tubuh kami. Tak lupa pakai jaket karena pasukan dingin menusuk tubuh kami tanpa pandang buluh.
            Angin yang kencang menimbulkan debu-debu tanah di sekitar puncak bertebaran dimana-mana. Muka kami sudah penuh dengan debu yang menempel terbawa angin. Angin yang terus saja kencang membuat kami memutuskan untuk memasak makan malam di dalam tenda. Kalau diluar tak mumpuni untuk memasak, selain dingin agin kencang akan membabat api yang ada dikompor.
            Menu makan malam kami adalah mie goreng sosis dan minuman susu dan lemon tea. Saat memasak di dalam tenda perlu diperhatikan keselamatannya ya. Memasak kan berhubungan dengan api yang menyala di kompor jadi kalau teledor api bisa membakar habis tenda dan seisinya. Jadi perlu tingkat kehati-hatian yang tinggi. Serta resleting tenda dibuka sedikit untuk jalan udara masuk karena ada api di dalam tenda.
            Setelah perut terisi dengan penuh, kenyang menyandera kami. Untuk memeriahkan malam ini, kami pun bermain poker.  Canda tawa pun menjadi penghangat kebersamaan ini. cerita-cerita dan hinaan absurd merajai malam. suara angin kencang yang menggesek tenda kami menimbulkan gemuruh keras.

            Aku mendongakkan kepala keatas. Mulutku tersenyum karena mendapati pemandangan yang sungguh indah. Ribuan bintang di angkasa menjadi perhiasan malam yang sangat cantik. Kerlap-kerlip memberi kesan mewah pada langit yang bermega ini. aku beradu dengan dingin dan kegelapan malam. tak lupa buang air kecil yang sejak tadi di tahan. Kami pipis di sembarang tempat, toh gelap. Tak ada pohon sebagai pelindung. Dan untungnya yang saat ini di puncak hanya kami saja. sempat terbesit tanda tanya besar padaku, andong kan luas dan tak ada satu pun pohon di puncak, nah ketika para manusia berbondong-bondong mendaki dan kemping diatas puncak, tiba-tiba ada hasrat ingin pipis, terus pipisnya dimana coba? Masa di tahan? Hmmm..
            Kami merebahkan diri dalam tenda. Suara angin bergemuruh terus saja menjadi nyanyian malam kami. Meninabobokan kami yang sekujur badan terasa pegal-pegal. Aku tak bisa tidur. Dengan angin yang terus meronta pada malam, aku merasa terganggu oleh suaranya. Mata ingin sekali terpejam namun otak terus terjaga. Dingin menyelimuti tubuhku dengan menembus sleepingbag.
            Tengah malam diantara suara ribut angin, ada rombongan pendaki tiba di puncak. senter-senter menyala melewati tenda kami. Ah syukurlah kalau ada beberapa orang yang nenda, setidaknya tidak hanya kami saja disini.
            Pagi hari dingin masih menyelimuti tubuh kami. Angin masih saja teriak namun tidak sekencang tadi malam. Bangun tidur bukanya mendapati iler tapi debu-debu yang banyak menempel di wajah.

            Hal yang paling aku suka ketika naik gunung adalah mendapatkan sunrise dari atas ketingian. Dan aku mendapatkannya dari gunung andong. Warna cantik dari langit menambah keindahan lukisan Sang Maha Pencipta yang tak hanya bisa terlukis dari kata-kata. Mataku menangkap lukisan alam ini dan menyimpannya dalam memori otak. Matahari menyingsing dengan memancarkan pesonanya. Gunung merbabu terlihat megah akibat semburat matahari yang memancarkan cahaya.

Bentuk gunung andong sangat unik, ada 2 puncak yang dimiliki andong. Untuk berada di puncak satunya lagi, kami harus melewati jalan setapak yang kanan dan kiri langsung jurang. Jalan ini hanya muat satu orang saja. dari puncak tempat kami berdiri, kami harus turun melewati jalan setapak kemudian kami menanjak dan sampailah kami pada puncak yang satunya agi.
Kami pun mengabadikan momen diatas puncak. tak lupa foto di depan papan yang bertuliskan “peak andong 1726 mdpl” sebagai bukti bahwa kami telah sampai di puncak gunung andong. Di puncak kedua ini, ada 2 bangunan yang terbuat dari bambu. Bangunan ini digunakan untuk warung yang dijajakan oleh warga dibawah kaki gunung andong. Namun, warung hanya beroperasi saat weekend saja. pada saat weekdays seperti ini, warung lebih sering digunakan para pendaki yang istirahat karena tak bawa tenda. Lumayan kan ada tempat bernaung, karena bangunan ini semi tertutup jadi angin yang sangat kencang sedikitnya menembus bilik bambu yang dilapisi plastik bening sebagai jalan masuk cahaya dikala siang.






Kami sarapan di bawah matahari yang semakin terik. Terlihat jalan setapak yang kami lewati saat menuju puncak kedua, sisi kanan dan kiri jalan tersebut terlihat menghitam gosong akibat kebakaran hutan. Sayang sekali, coba saja kalau hijau-hijau itu ada pasti cantik banget.
Menu sarapan kami sangat istimewa yaitu nasi goreng tuna. Untuk pelepas dahaga dan seret, kami menyediakan nutrisari, energen, milo dan kopi. Yay, tinggal pilih saja. padahal di gunung tapi rasanya udah kayak di burjo aja~. Makan selesai saatnya peking dan kembali ke basecamp. Rasa letih mendera kami namun tak ada bandingnya dengan kebahagiaan yang menyelimuti jiwa kami. Rasa letih pun tak dirasa karena panorama yang indah di gunung andong menutup segala rasa lelah.

Kalau kemarin tanjakan yang kami hadapi, sekarang turunan.serem juga ya karena turunan ini lebih curam dan dibawah terlihat jelas petakan-petakan sawah dan jalanan yang meliuk-liuk serta genteng-genteng rumah pun terlihat jelas. Belum lagi debu-debu disepanjang jalan yang tebal sehingga membuat kami konsentrasi pada jalan supaya tidak terpelanting.

Perjalanan kali ini sangat menyenangkan sekali. Aku bisa berkenalan dan mendapatkan teman baru dari bandung dan jogja. Dan perjalanan kali ini banyak sekali makna yang tersirat, dimana aku akhirnya berani melangkah sejauh ini sendiri keluar dari zona nyamanku dengan menaiki bis ekonomi menuju tempat yang baru bagiku.

You May Also Like

0 comments

silahkan berkomentar sesuka hati disini..