Dont Be Hater, But I Do. Sorry.

by - 8:24 AM


adapun seseorang yang menciptakan masalah padaku. temanku sendiri. dan aku harus rela membencinya karena perlakuannya terhadapku. mungkin, dia kecewa berat dengan ku. aku akui itu, tapi sampai begitunya kah dalam menghadapi masalah denganku? mendiamkanku berhari-hari atas keputusan yang aku buat. dia kecewa dengan keputusanku. kenapa sih dia gak bisa terima ? bukankah penerimaan itu indah, walaupun pada awalnya menyakitkan. tapi aku kan juga punya hak untuk memilih. ah persetan dengan dia. kalau ini memang yang diinginkan, aku lebih baik diam dan membiarkan dia begitu saja. aku tak peduli. 

aku adalah tipikal orang yang cinta damai. aku sudah minta maaf. aku sudah mulai mengawali untuk berhubungan baik dengannya lagi. tapi apa, dia malah gengsi untuk berbicara denganku lagi. betapa nyebelinnya dia. gak dewasa. gak ingat umur. padahal kan udah tua. 

sukanya menyindir lewat akun sosial media, bahkan selalu mencurahkan di facebook atau ditwitter. mengatai aku kalau aku penghianat. segala serapahnya ia update. piciknya, aku harus membenci dia. 

bukan hanya denganku saja dia mencitakan masalah, dengan teman-temanku pun begitu. banyak yang kurang setuju dengan tingkah lakunya. jujur saja, dia egois. lebih mentingin diri sendiri. aku tahu walaupun dia niatnya baik, tapi caranya kurang begitu baik. jadi persepsi orang tuh beda-beda. emang sih perfeksionis, tapi memforsir dirinya sendiri dan teman-temannya.

aku menyesal dulu harus membela-nya ketika pemilihan itu. aku hanya mengungkapkan kebaikan-kebaikannya doang. tidak seperti yang lain yang mengungkapkan perilaku ngetifnya, sedangkan aku berusaha menutupi aib-nya didepan forum. aku hanya melontarkan perbuatan baik saja. dan sebagai balasannya, aku dikatain penghianatlah, gak nganggap lah. hello, who do you think you are? 

sekarang aku lagi menggebu-gebu menulis ini. jujur saja, aku trauma bila harus bertemu dengannya. aku yang lalu-lalu, tak pernah memiliki musuh. tapi gara-gara dia aku harus merasakan yang namanya memiliki musuh. well, aku gak nganggap musuh. tapi dia sendiri yang membuatku berpikiran kalau dia musuh. 

aku cinta damai. aku tak mau ada perselisihan. tapi dia nya yang mulai. dan gak tahu kapan semua ini harus berakhir. aku sedang mengurangi kadar rasa benciku, tapi aku belom bisa. ketika melihat akun-nya lewat diberanda atau timeline, perutku langsung seperti diaduk-aduk karena saking traumanya. astaghfirullah, semoga ini tak lama.

You May Also Like

0 comments

silahkan berkomentar sesuka hati disini..