Mata Air Jepara: Industrialisasi Pendidikan

by - 5:02 PM

(23/12) Aku menghadiri sebuah acara diskusi publik yang memiliki tema Industrialisasi Pendidikan. Acara ini diadakan oleh Mata Air Management Jepara dan bertempat di Gedung Serbaguna Kabupaten Jepara. Narasumber yang mengisi acara ini adalah Dr. H. Toepomo, M.Ag. (LP Ma'arif Jepara), Dra. Sri Utami, MM. (Dikpora), Kibtiyah, SE. (Kamar Dagang dan Industri) dan Dr. Arif Akhyat, MA. (Dosen UGM).



Dalam diskusi ini para pemateri membeberkan mengenai pendidikan dan masa depan siswa sekolah khususnya di Jepara. Serta motivasi-motivasi diberikan kepada para audiens yang notabene para siswa sekolah.

Narasumber Dra, Sri Utami, MM. menyatakan bahwa saat ini minat baca untuk siswa sekolah itu berkurang. Hal ini sangat memprihatinkan karena siswa sekolah adalah harapan bangsa yang akan memajukan negara Indonesia. Maka dari itu diperlukan Trisenta Pendidikakan. Keluarga, Sekolah dan Masyarakat sebagai ekosistem yang ideal dalam menumbuhkan karakter dan budaya berprestasi bagi peserta didik.

Dra, Sri Utami, MM menjelaskan mengenai 7 elemen ekosistem pendidikan, diantaranya adalah: 
-Sekolah yang kondusif.
-Guru sebagai penyemangat.
-Orang tua terlibat aktif.
-Masyarakat yang kondusif.
-Industri yang berperan penting.
-Organisasi profesi yang berkontribusi besar.
-Pemerintah berperan optimal.

Sementara itu, Bu Kibtiyah memberikan mateeri tentang "nation and character building". Remaja yang sedang menempuh pendidikan diharapkan memiliki skill untuk kebutuhan masa depannya. Entah setelah lulus SMA/SMK nanti mau melanjutkan ke dunia perkuliahan ataupun bekerja. 

Jepara terkenal dengan hasil ukiran kayu yang sudah merjalela di Indonesia maupun mancanegara. Ini menjadi ciri khas bagi Jepara dibidang industri furnitur. Hal ini harus dilestarikan. Maka dari itu, di Jepara sedang membuat program untuk menunjang usaha ukir dan pertukangan. "kalau kita mempunyai kemampuan yang bagus ngapain kita kerja di kanotr? Kita bisa bikin usaha. Ini bisa mengurangi pengangguran" Kata Kibtiyah.

Tenaga ukir di Jepara sudah sangat langka. Hal ini dikarenakan banyak munculnya pabrik-pabrik yang menjajikan bagi pendudukan Jepara, khususnya warga disekitar pabrik. Dengan gaji UMR dan tambahan-tambahan uang lembur itu menarik bagi siswa-siswa yang baru lulus Ujian Nasional SMA/SMK.Bahkan para pengusaha furnitur pun pada beralih ke pabrik.  Hal ini menjadi keresahan publik karena dengan begitu mereka hanya akan menjadi buruh dan tidak mempunyai skill disuatu bidang tertentu. Untuk Jepara sendiri pun akan berkurangnya para tukang ukir yang menjadi ciri khas Jepara karena penerusnya lebih suka bekerja di pabrik daripada menjadi tukang ukir/kayu.

Menurutku, peran orang tua dan guru disekolah sangat penting untuk membentuk pola pikir siswa di sekolah. Tentu mereka yang sedang mengalami masa remaja ini bingung menghadapi tahun selanjutnya ketika mereka lulus sekolah. Jika mau kuliah, dipersilahkan. Jika mau bekerja, tidak ada yang melarang.

Pembentukan pola pikir disini adalah keinginan untuk hidup itu-itu saja, dengan skill seadanya, lalu terjebak dalam lingkup kerja yang itu-itu saja tanpa pengembangan diri. Misal, buruh pabrik. Sayang sekali masa muda yang seharusnya masih menggebu-gebu dengan impian setinggi langit, harus berakhir 'biasa saja' karena tidak ada kemauan yang kuat untuk berubah lebih baik. khususnya untuk daerah Jepara yang kebanyakan siswa ketika lulus sekolah itu bekerja di pabrik. 

Minimal para remaja memiliki skill yang bisa digunakan untuk mengembangkan diri dan memajukan negara Indonesia. Remaja saat ini adalah  masa depan bangsa. Terutama di Jepara. Minat untuk melestarikan kebudayaan di Jepara perlu ditingkatkan lagi. 



You May Also Like

10 komentar

  1. Semoga murid-murid di Jepara semangat dan antusias mengasah skillnya untuk pencapaian character building dan ke -7 elemen bisa mendukung...

    ReplyDelete
  2. ingat kata Jepara, saya jadi ingat dng toko yg menjual jati ukir dari Jepara yg ada di kota saya.

    ReplyDelete
  3. Kalau saya ya mbak, bagian yang membuat berkembang di sekolah itu guru sebagai penyemangat, fasilitas pendidikan yang lengkap sama dorongan orangtua. 3 poin utama disitu :D

    ReplyDelete
  4. sedari kecil, orang tua harus membangun mindset anaknya bagaimana hidup di era revolusi industru 4.0 saat ini. Nggak bisa hidung cuma untuk makan hari ini

    ReplyDelete
  5. Aku pikir didaerahku saja. Orang-orang desa meninggalkan sawah dan ladang untuk bekerja sebagai buruh pabrik yang lebih jelas penghasilannya.

    ReplyDelete
  6. Sedih ya Mbak, kalau begini. Semoga ke depan generasi muda punya kesadaran untuk melestarikan ukir yang sudah jadi ciri khas Jepara sejak dulu.

    ReplyDelete
  7. Benerr! Minat baca siswa sekolah terus berkurang. Gara-garanya ya video Yucup, ML, dan lain sebagainya.

    Semoga makin ke sini minat baca dan minat untuk melestarikan budaya Indonesia siswa sekolah makin tinggi ya! :D

    ReplyDelete
  8. semoga saja perjuangan para siswa dalam menimba ilmu bisa berguna untuk masa depannya yah, keterampilannya juga terus ditingkatkan.

    ReplyDelete
  9. Minat baca anak-anak memang menurun.. . Buku perlahan ditinggalkan ya

    ReplyDelete
  10. suka banget sama statement ini; "kalau kita mempunyai kemampuan yang bagus ngapain kita kerja di kantor? Kita bisa bikin usaha. Ini bisa mengurangi pengangguran. Salah satu dosenku dulu pernah bilang yang serupa gini. dan hihi...kebetulan aku emang nggak betah kerja di kantor :)

    Semoga anak2 muda selalu bersemangat buat jadi yang terbaik ya.

    ReplyDelete

silahkan berkomentar sesuka hati disini..