Mengurus anak itu bukan pekerjaan sembilan bulan atau sepuluh hari saja, tapi seumur hidup.

by - 2:30 PM


Well, mungkin aku agak kudet ya kalau baru bahas film Dua Garis Biru sekarang, secara film ini rilis pada bulan Juli 2019. Disebabkan karena biskop far for home, jadi ini suatu kabar gembira banget kalau Dua Garis Biru sudah tayang di iflix sehingga aku bisa streamingan di handphone, sambil  rebahan tentu saja.


image by kincir.com

Film Dua Garis Biru ini disutradarai oleh Gina S. Noer. Tak usah diragukan lagi kecerdasan Gina di dalam dunia perfilman. Sebelumnya, Gina telah menulis skenario beberapa film terkenal di Indonesia, contohnya saja Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Habibie dan Ainun,  Posesif dll. Dari film-film tersebut, kita tau bahwa kualitas Gina tak diragukan lagi dalam pembuatan skenario. 

Film Dua Garis Biru diperankan oleh Angga Yunanda sebagai Bima, Zara JKT48 sebagai Dara, Lulu Tobing sebagai Mama Dara, Cut Mini sebagai Ibu Bima, Dwi Sasongko sebagai Papa Dara, Arswendi Nasution sebagai Ayah Bima dan Rachel Amanda sebagai Kakak Bima. 

Bima adalah siswa biasa-biasa saja, didik dari keluarga sederhana dan dekat dengan agama. Lingkungan pertemanan pun biasa-biasa aja, tidak ada kecenderungan untuk nakal yang bener-bener bandel. Sedangkan Dara adalah siswi cerdas yang selalu mendapat nilai 100 dan dididik dari keluarga terpelajar dan selalu mengedepankan untuk memiliki masa depan yang baik. Sehingga Dara memiliki ambisi tersendiri di dunia pendidikan karena cita-citanya adalah kuliah di Korea.

Seperti percintaan anak SMA, Bima dan Dara termasuk pasangan yang bucin wkwk. Hingga akhirnya sesuatu yang mereka sadari namun tidak menyadari akibat yang akan datang- mereka lakukan. Tanpa persiapan, tanpa ilmu dan tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya. 

Lalu, hasil yang mereka lakukan adalah.. dua garis pink pada testpack! 

Dari cerita tersebut kita tahu bahwa seks bebas tidak hanya terjadi pada anak-anak nakal, liar dan brutal. Tapi bisa terjadi dengan Bima yang anak biasa-biasa saja dari keluarga religius dan Dara siswi cerdas dari keluarga terdidik. 

Edukasi seks sifatnya masih tabu jika dibahas Indonesia, terutama orang tua dan anak. Padahal, tugas orang tua membimbing dan mengarahkan anaknya untuk lebih baik.

Dalam scene di UKS ini menurutku yang paling menggetarkan hati. Ketika orang tua Dara mengetahui bahwa anaknya mengandung, mereka langsung syok. Dan, Bima pun dengan lantang berkata "saya siap bertanggung jawab. Saya sayang sama Dara" well, seketika mamanya Dara berkata "Kamu pikir jadi orang tua itu gampang. Mamah saja sudah gagal" "Mengurus anak itu bukan pekerjaan sembilan sepuluh hari saja, tapi seumur hidup.." 

Dari scene sini aku menyadari bahwa, membangun keluarga dan memiliki anak, tidak semata-mata hanya sebatas "aku sayang kamu". Tapi diperlukan persiapan yang tepat, mental yang kuat dan finansial yang siap karena berhubungan itu tidak hanya satu dua hari saja. Tepatnya lebih punya perencaan yang matang untuk menjalin sebuah hubungan pernikahan hingga mempunyai anak. 

Penerimaan orang tua Dara dan Bima atas kejadian yang dilalui anaknya yang masih remaja, patut diacungi jempol. Emang awalnya berat dan penuh denial diantara kedua pihak, tapi lama-lama penerimaan itu terjadi. Paling sulit adalah Mamanya Dara, yang sulit menerima keadaan ini. 

Dokter kandungan di film ini pun menjelaskan tentang kehamilan tanpa menggurui namun tetap bisa diterima baik oleh remaja. Dokter juga sering menekankan bahwa kehamilan Dara pada usia 17 tahun ini penuh resiko. Dari scene dokter ini terdapat  pesan-pesan yang bisa diterima oleh remaja dan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu diluar batas.

Saat melahirkan, Dara mengalami pendarahan karena keadaan rahim yang belum matang. Kehamilan dini ini mengandung banyak resiko, dan Dara harus menerima resikonya. Dokter melayangkan opsi, operasi pengangkatan rahim atau operasi dengan rahim yang masih ada dalam tubuh namun resikonya adalah nyawa Dara. Akhirnya, Bima sang suami memutuskan dengan berat hari, demi keselamatan Dara, operasi pengangkatan rahim pun dilakukan.

Dari film ini kita bisa banyak belajar, terutama para remaja untuk mengetahui dampak dari melakukan seks sebelum menikah/pada umurnya. Serta untuk orang tua supaya lebih aware lagi kepada anak untuk memberikan edukasi seks sejak dini agar disaat remaja kelak anak bisa tahu suatu sebab akan ada akibat yang ditimbulkan. Tidak hanya anak sendiri yang hancur, namun orang tua dan keluarga sekitar juga akan terkena dampaknya.

Film Dua Garis Biru mengajarkan kita bahwa akan ada kesempatan kedua. Memang sih Dara harus drop out karena kehamilannya, dan Dara harus melanjutkan sekolah paket C untuk menggapai impiannya untuk kuliah di Korea. If there is a will, there is a way. Walaupun tidak disekolah formal, toh Dara bisa melanjutkan mimpinya dengan menempuh jalur lain.

You May Also Like

6 komentar

  1. Film ini bagus banget kayaknya ya mbak ? Saya belum pernah nonton sih nie. Jadi pingin nonton setelah baca reviewnya. Terima kasih kakaaaaak.. ♥️♥️♥️

    ReplyDelete
  2. Ini film bagusss banget sampe dibikin analasis gitu sama channel youtube Cinecrib

    ReplyDelete
  3. Aku belum nonton filmnya, baik di bioskop atau iflix mbak. Tapi lihat ceritanya itu seperti banyak dialami oleh remaja zaman sekarang, seks diluar nikah saat masih usia dini..😰

    ReplyDelete
  4. Saya nonton nh filmnya, dan memang bagus sih menurut saya.
    Harus banget di tonton anak-anak remaja, biar mereka ngeh resiko sex dini atau sex before married.

    Enaknya bentar doang, menderitanya bisa seumur hidup, itu bakal membayangi hidupnya terus, bikin masa depannya jadi tertunda dan bisa suram :(

    ReplyDelete
  5. Bagus nih mba film, banyak kejadian dindunia nyata. Kadang kasihan aja masih SLTP putus sekolah karena harus nikah, padahal mengurus anak bukanlah hal yang mudah.

    ReplyDelete

silahkan berkomentar sesuka hati disini..